by

Budaya Mas Kawin Dan Produktivitasnya

Oleh: Luis Feneteruma( Calon Peneliti PMB LIPI)

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa, bahasa dan adat istiadat. Oleh karena itu indonesia kaya sekali akan kebudayaan. Menurut data sensus penduduk Badan Pusat Statistik bahwa indonesia memiliki 1.331 suku yang tersebar diseluruh wilayah dan jumlahnya berbeda-beda. Dibagian wilayah timur khususnya pulau papua memiliki 250 suku yang tersebar baik di pegunungan, lembah maupun pantai.

Jumlah suku di Tanah Papua dibarengi juga dengan jumlah bahasa dan adat istiadat yang berbeda – beda sehingga kekayaan budaya dibumi cendrawasih sangat beragam. Masyarakat di Papua sampai sekarang masih mempraktekan adat-istiadatnya dalam kehidupan sosial sehari-hari. Salah satunya adalah budaya pernikahan atau biasa disebut perkawinan. Ada dua tata cara pernikahan yang dipraktekan, pertama pernikahan secara adat (kawin adat) dan kedua pernikahan secara agama.

Adapun tata cara pernikahan, dilakukan sesuai dengan adat masing-masing suku karena biasanya satu suku akan memiliki prosesi adat yang berbeda dengan suku lainnya. Didalam perkawinan tersebut terdapat mahar atau yang disebut dengan mas kawin dan setiap suku di Papua mempunyai tradisi tersebut, mas kawin sendiri merupakan simbol pengesahan sebuah hubungan dan pengikat perkawinan serta penghargaan terhadap pihak perempuan. Besaran harta/mas kawin setiap suku di Papua sangat beragam tergantung status sosial dan praktek budayanya.

Tradisi bayar – membayar mas kawin ini merupakan budaya yang sudah dilakukan turun – temurun sejak nenek moyang dan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pihak laki-laki. Adapun besaran mahar sesuai dengan jumlah uang atau benda yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Kemudian waktu dan besarnya pembayaran mas kawin biasanya diputuskan pada saat proses acara peminangan, pada waktu itulah kedua belah pihak duduk bersama, bernegosiasi dan mengambil keputusan tentang harta/mas kawin.


Jika dirunut genealoginya, kesepakatan jumlah dan jenis mahar ini merupakan konvensi para leluhur sesuai konteks zamannya. Pemaknaan terhadap budaya berbeda-beda karena alat budaya yang dipakai sebagai mahar sebagian besar sudah tidak bisa ditemukan saat ini maka ada beberapa suku yang membuat keputusan barang antik (budaya) itu digantikan dengan uang.


Bentuk mas kawin bermacam-macam seperti kain, uang, piring dan benda lainnya yang memiliki nilai history budaya dan ekonomi. Mas kawin ini mebimbulkan banyak opini dan perdebatan yang berkembang dalam masyarakat serta analisa-analisa mengenai dampak sebuah pembayaran mas kawin, baik itu dampak positif maupun negatifnya karena secara empirik banyak suku yang belum memahami secara baik apa itu mas kawin.

Terlepas dari dampak positif atau negatif mas kawin, yang harus diambil benang merahnya serta makna dibalik itu adalah sebuah tanggung jawab. Mas kawin dijadikan sebagai suatu penilaian, apakah pihak laki-laki sungguh-sungguh dalam melakukan pernikahan atau sebaliknya. Biasanya pihak perempuan memberikan kelonggaran didalam pembayaran mas kawin dengan mengatur waktu pembayarannya, misalnya waktu pembayaran dibagi dalam tiga tahapan. Pembayaran tahap pertama sebesar 50% kemudian pembayaran tahap kedua sebesar 25% dan tahap ketiga sebesar 25%.

Konteks Zaman Now
Jika dikaitkan dengan perkembangan sekarang bahwa ternyata penentuan sebuah besaran mas kawin itu bukan suatu beban bagi pihak laki-laki, akan tetapi justru sebaliknya memberikan tantangan sendiri kepada seorang laki-laki untuk berusaha, jadi yang dilihat adalah filosifinya. Mengapa demikian? Karena ketika seseorang mendirikan rumah tangga berarti itu adalah sebuah tanggung jawab dalam kehidupan (keluarga) sandang, pangan dan papan. Disinilah alasannya seorang pria harus siap bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangganya.


Oleh sebab itu seseorang yang sudah berumah tangga dituntut agar produktivitasnya meningkat. Ia harus bisa mencari pekerjaan agar dapat menghidupi keluarganya, disamping itu ia juga harus hidup mandiri tanpa ketergantungan dengan orang tua atau keluarga lainnya.


Dalam buku yang ditulis oleh Samuel P.Huntington dengan judul Kebangkitan Peran Budaya “Bagaimana Nilai – Nilai Membentuk Kemajuan Manusia”, dalam pengantar buku ini penulis memembandingkan kehidupan orang korea selatan dan ghana. Orang Korea melaksanakan hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi dan disiplin sedangkan orang Ghana mempunyai nilai-nilai yang berbeda. Dalam perkembangan yang terjadi tiga puluh tahun kemudian Korea Selatan lebih maju dan menjadi kekuatan ekonomi isdustri terbesar nomor 14 di dunia sedangkan Ghana tidak berkembang bahkan pendapatan perkapitanya hanya seperlimabelas dari Korea Selatan.


Dari penjelasan diatas ternyata Budaya berperan penting dalam membentuk perkembangan suatu masyarakat. Oleh sebab itu nilai-nilai adat yang mengajarkan tentang tanggung jawab serta kerja keras itulah yang seharusnya dipakai atau diadopsi oleh generasi Papua sekarang, ketika adanya persaingan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat global. Disisi lain orang tua juga harus turut merawat budaya – budaya tersebut dengan cara mengajarkan kepada generasi baru.
Ada beberapa filosofi yang sekarang mulai hilang dari tatanan adat isitadat orang Papua, sehingga nilai – nilai adat yang diajarkan turun temurun dari nenek moyang tidak diketahui oleh generasi baru. Salah satu filosofi yang diajarkan itu adalah sebelum berumah tangga baiknya seorang laki-laki harus bisa membangun rumah atau dia bisa berkebun serta bisa melaut, ini adalah filosofi yang diajarkan dan dapat diadopsi pada pekerjaan-pekerjaan lainnya agar seseorang bisa bekerja keras sebelum menikah. Perubahan sosial dan perkembangan dunia berjalan cepat sehingga nilai-nilai adat yang positif dan merupakan filosofi kehidupan harus terus dipelihara serta diimplementasikan agar tidak hilang.(**)

Comment

Daftar Berita Terpopuler